Madha Paso

Rahasia ilmu orang-orang Galela zaman dulu berkaitan dengan MadhaPaso. Sebuah lembah di Gunung Tarakani. Ia adalah seperti lembah suci Ka’bah. Siapa memasukinya dia selamat.

MadhaPaso juga bisa seperti Gua-Hira di Gunung Cahaya (Jabal Nur). Atau Tursina.

Ia adalah simbol manusia beriman. Sebuah pernyataan iman seperti berikut:

Yakin aku akan Allah. Yakin aku akan malaikat. Yakin aku akan al-Qur’an. Yakin aku akan Rasul Allah. Yakin aku akan hari kiamat. Yakin aku akan baik buruk semua datang dari Allah.

Iklan

Orang-Orang Galela Soa Mogiowo

Orang bilang mereka orang kafir. Padahal mereka belum tersentuh oleh ajaran agama apapun saat itu. Namun, mereka punya keyakinan kepada Roh-Roh nenek moyang mereka yang dikenal dengan istilah GOMA.

Dalam ajaran ‘agama’ mereka ditemukan istilah JOU GIKI MOI yang dapat diartikan Tuhan Yang Satu. Dan manusia adalah JOU, tuhan kecil yang harus diperlakukan sama tanpa pandang derajat.

Dalam pergaulan sesama manusia dan alam, mereka sangat setia pada perasaan. Mereka memandang manusia sebagai JOU. Hingga mereka mengangkat kedua tangan sambil mengucapkan JOU SUBA. Kemudian orang yang disapa balik membalas dengan berkata SUBA JOU.

Pandangan mereka tentang hewan dan tumbuhan juga disamakan dengan manusia. Punya roh dan rasa. Hingga dalam menyikapi keduanya harus dengan perasaan. Jika menebang kayu, mereka merasa wajib BASILOLOA, semacam pamit. Begitu pula pada hewan, mereka harus merawat secara khusus sebelum menyembelihnya. Memberi makan, pakaian yang bagus, dan meminyaki bulu-bulunya. Mereka berbicara seakan tahu bahasa binatang.

Orang-orang SOA MOGIOWO sangat tangguh dalam berperang. Mereka tahu waktu dan kondisi. Saat mereka tahu direstui GOMA, mereka tidak takut mati. Karena pandangan khususnya kepada manusia, mereka selalu akan meminta perang seimbang. Jika Anda memakai pisau, dia memakai pisau. Jika Anda memakai kayu, dia pun hanya memakai kayu. Bahkan dalam memulai bertarung, mereka saling mengundang siapa yang duluan. Dan ketika memulai perang, dia pun BASILOLOA: No Ma Puturuka.

SILOLOA

Aku menulis tentang Orang-Orang Galela. Laki-laki dan Perempuan. Manusia model buku Tarakani dan Madha Paso. Tradisinya. Pandangan-pandangan hidupanya. Karakter-karakternya.

Aku menulis tentang Orang-Orang Galela Soa Mogiowo yang aku temukan dari sumber-sumbernya yang autentik, dari wawancara-wawancara orang tua dan cerita-cerita nenek moyangku sendiri.

Akan kuusahakan seobjektif mungkin agar tak dicibir para kalangan ilmiah.

Bagi saya, kebenaran sejarah bukan diukur dari temuan-temuan ilmiah dan catatan-catatan musuh. Tapi kebenaran sejarah dapat diukur dari penerus generasi yang tak putus, yang akan selalu hidup menjadi panutan-panutan bagi penerus selanjutnya.

Akan kupegang erat-erat wasiat orangtuaku yang diteruskan dari nenekmoyangku, karena aku berkeyakinan mereka tidak mungkin membohongiku walau hanya setetes embun. Sedangkan para penjajah negeriku, perampok-perampok sumber ekonomi negeriku, mungkin saja mencatat perjalanan busuk mereka dan melaporkan ke pemimpin-pemimpin di negeri asal mereka tentang Pesta-Pora dan Kebrutalan mereka, tentang hasil jajahan mereka, semuanya akan bisa kuterima selama aku tahu dia bukan penjajah.

Portugal, Spanyol, Inggris, dan Belanda adalah PENJAJAH-PENJAJAH NEGERIKU.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑